Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Nabi Muhammad SAW Bagian 1

Kisah Nabi Muhammad SAW Bagian 1

Kisah Nabi Muhammad SAW
                       Kisah Nabi Muhammad SAW


Kisah Nabi Muhammad SAW  Bagian 1-Rabi’ul Awwal adalah bulan istimewa, bulan yang menerangi dunia dimana pada bulan itu merupakan kelahiran Sayyidina Habibina wa Syafieena wa Qurataaayunina Nabi Agung Muhammad SAW

Leluhur Nabi Muhammad SAW

Hasyim bin Abdul Manaf adalah salah satu nenek moyang Nabi Muhammad SAW yang merupakan pemuka masyarakat dan tergolong orang yang berkecukupan. Masyarakat Mekah mematuhi dan menghormati keluarga Hasyim. 

Pada suatu waktu saat penduduk Mekah mengalami suatu musim kemarau yang begitu parah, Hasyim membawakan persediaan makanan dari tempat yang jauh dan sulit didapat. Hal itu yang membuat Hasyim begitu disayangi penduduk Mekah.

"Terima kasih, Duhai Hasyim! Engkau telah menolong kami dengan pemberian makanan ini!" kata masyarakat Mekah

Pada masa itu, Mekah sudah berkembang menjadi pusat perdagangan dan tempat berdagang kafilah-kafilah yang datang dan pergi ke Mekah. Sampai-sampai kepandaian berdagang penduduk Mekah begitu masyur dan sulit tertandingi. 

Namun dibalik kemajuan yang pesat khususnya dibidang perdagangan, penduduk Arab secara umum saat itu mengalami kemunduran hingga menjadapt julukan "Jaman Jahiliyah" dimana masyrakat mengalami kebodohan dan masa-masa kegelapan dalam moralitas.

Pembagian Urusan

Pada masa itu dalam pemerintahan terdapat pembagian untuk berbagai urusan antara lain:

Hijabah bertugas sebagai pemegang kunci Ka'bah

Siqayah adalah pejabat yang mengurusi penyediaan air dan makanan untuk para peziarah

Rifadah bertugas mengatur pembagian dana dari orang kaya untuk dibagikan kepada warga fakir miskin

Qiyadah sebagai pemegang jabatan yang mengatur untuk urusan peperangan

Percaya Takhayul

Salah satu hal yang menjadikan masa itu sebagai masa kegelapan dan kebodohan adalah masyarakat masih percaya pada takhayul. Meraka masih sangat percaya pada berhala-berhala yang mereka anggap dapat memberikan keberuntungan. Selain menyembah berhala mereka juga tak segan untuk mengorbankan ternak dengan mengoleskan darahnya pada berhala. Bahkan ada yang sampai rela mengorbankan anak-anak merekan hanya untuk mengharap sesuatu dari berhala.

Muasal ritual penyembahan berhala sendiri bermula saat seorang bernama Amar bin Luhay yang membawa berhala yang diberi nama Hubal kemudian meletakkan di Ka'bah dan meminta kepada masyarakat untuk menyembahnya. Sebelum penaklukan Mekah oleh Nabi Muhammad ada sekitar tigaratus enampuluh berhala baik berwujud batu, kayu, dari perak bahkan ada yang dari emas.

Pada masa itu bangsa Arab juga senang mabuk dengan meminum arak. Mabuk  sudah menjadi kebiasaan penduduk arab waktu itu, hanya sedikit saja yang tidak melakukanya. Selain mabuk penduduk Arab waktu itu juga tergila-gila dengan judi yang menjadi kebiasaan saat itu. Bahkan kondisi ini masih berlangsung sampai masa Nabi Muhammad mengajarkan agama Islam yang kemudian dengan perlahan-lahan turun perintah dari Allah untuk mengharamkan meminum-minuman yang memabukkan.

Barm

Barm adalah bentuk perjudian dengan memotong unta. Perjudian ini paling digemari orang Arab Jahiliyah. Bilah-bilah kayu diacak dalam sebuah kantung kemudian dibagikan. Orang yang mendapatkan undian kosong dinyatakan kalah dan harus membayar unta yang dipotong. Lalu daging unta dibagikan kepada fakir miskin. Orang yang tidak menyukai judi ini disebut sebagai seorang yang kikir dan biasa disebut barm

Pada masa itu juga terkenal dngan adanya perampok yang kejam. Bukan sekedar harta benda yang menjadi target rampokan tapi anak-anak bahkan sampai hati mereka bunuh. Suatu kebiasaan yang jauh dari perikemanusiaan pada masa itu adalah tidak menyukai kelahiramn anak perempuan, mereka rela membunuh saat mempunyai anak perempuan. Pada masa itu mempunyai anak perempuan adalah aib yang membuat malu keluarga.

Orang Arab jahiliyah pada masa itu tidak mengenal sopan santun, seperti mereka terbiasa berkeliling Ka'bah tanpa berpakaian. Kebiasaan buruk lain dari penduduk Arab masa itu adalah dalam urusan makan dan minum tidak ada satupun yang dilarang. Semua binatang boleh dimakan, bahkan binatang yang sudah mati pun boleh dimakan. Merek suka minum darah binatang dan makanan darah yang sudah dibekukan.

Sejarah Nabi Muhammad SAW

Abdul Muthalib

Pada suatu waktu, Hasyim melakukan perdagangan ke negeri Syam, saat melalui Yatsrib ( kelak lebih dikenal dengan Madinah) Hasyim melihat wanita baik-baik yang merupakan wanita terpandang. Seorang janda bernama Salma binti Amr, yang kemudian menjadi istrinya. Hasyim meninggal dunia di Palestina saat melakukan perniagaan. Saat itu Salma sedang mengandung anak Hasyim yang kemudian lahir anak laki-laki bernama Syaibah

Setelah  Hasyim tiada, kedudukan Hasyim sebagai pemuka masyarakat Mekah waktu itu digantikan oleh adik Hasyim yaitu Al Muthalib.

Seperti Hasyim, Al Muthalib juga seorang yang dicintai oleh  penduduk Mekkah. Bahkan penduduk Mekkah memberi julukan kepada Al Muthalib "Al Fayyad" atau "Si Dermawan"

Pada suatu hari, Al Muthalib pergi ke Yatsrib untuk menemui Syaibah, keponakannya yang merupakan anak dari Hasyim.

Al Muthalib begitu terpesona dengan Syaibah yang membuatnya teringat dengan kakaknya Hasyim. Hal itu yang membuatnya meminta ijin Salma, Ibu Syaibah untuk membawanya ke Mekkah. Akhirnya Salma mengijinkannya walau sempat merasa keberatan karena Syaibah adalah anak satu-satunya bersama Hasyim. Hasyim sendiri sebenarnya sudah mempunyai empat puta dan lima putri di Mekkah.

ABDUL MUTHALIB

Dengan senang hati Al Muthalib membawa Syaibah ke Mekkah dengan menaikkan dibagian belakang untanya. Pada waktu itu orang-orang mengira kalau aibah adalah budak Al Muthalib dengan memanggilnya,"Abdul Muthalib" atau "budak Muthalib"

"Celaka Kau, dia bukan budakku, ia adalah anak Hasyim, Kakakku!!" balas Al Muthalib.

Tetapi orang-orang sudah terbiasa menyebutnya sebagai Abdul Muthalib, yang adalah kakek dari Nabi Muhammada SAW, kelak dikemudian hari.

KISAH NABI MUHAMMAD SAW

Seperti Hasyim, bapaknya, setelah dewasa, Syaibah yang kini lebih dikenal dengan nama Abdul Muthalib  menjadi seorang pemuka masyarakat Mekah.

Setelah Hasyim tiada, semua harta dikuasai adiknya yang paling kecil yang bernama Naufal. Abdul mutholib pun meminta harta ayahnya saat ia tumbuh dewasa, namun Naufal menolak. Akhirnya Abdul Mutholib minta bantuan saudara dari ibunya di Yatsrib agar Naufal mau memberikan harta ayahnya. Naufal akhirnya mau mengembalikan harta Hasyim untuk Abdul Muthalib setelah kerabat ibu Abdul Muthalib mengirimkan 80 pasukan berkuda.

Sumber Air Mekah

Pada waktu itu Abdul Muthalib menjadi pejabat yang mengatur air dan makanan untuk tamu-tamu masuk ke kota Mekah. Karena sejarah sumber air  Zam-Zam yang sudah ratusan tahun tertimbun dan belum ditemukan tempatnya, air harus didatangkan dari sumur-sumur yang terpencar di sekitar Mekah.

Abdul Muthalib yang mengetahi sejarah Mekah, masih ingat bahwa di Mekah pernah ada sumur yang berasal dari mata air yang keluar dan memancar dari kaki Ismail.tidak pernah lupa pada sejarah Mekah, bahwa dulu pernah ada mata air yang menghidupi Mekah, mata air yang "memancar keluar oleh kaki Ismail".

Bersama Harits, putranya Abdul Muthalib mulai melakukan pencarian terhadap keberadaan sumur zam-zam itu. 

“Aku harus menemukan mata air itu!" kata Abdul Muthalib

Berbekal semangat tinggi Abdul Muthalib dan Harits mulai menggali tempat-tempat yang diperkirakan terdapat sumur Zam-Zam itu. Dengan menggunakan tembilang yaitu alat untuk menggali dengan tangkai panjang.

Setelah melakukan banyak penggalian, ternyata meraka belum juga menemukan mata air itu. Harits mulai ragu:"Mata air itu mungin sudah tidak ada, Ayah" kata Harits.

Namun Abdul Muthalib dengan keyakinan menjawab:"Ayah masih yakin mata air itu masih ada, Nak. Kita harus mencari dan menemukan agar penduduk Mekah hidup dengan lebih baik."

Penduduk suku Quraisy yang merupakan penduduk asli Mekah, heran dengan apa yang dilakukan Abdul Muthalib:"Mengapa kamu measih terus mencari dan menggali untuk mencari mata air itu? Bukankah kamu tahu, Mudzaz bin Amr sudah pernah mencarinya dan gagal menemukan?"

Iya, ratusan tahun yang lalu Mudzaz bin Amr yang merupakan mertua dari Nabi Ismail AS pernah melakukan penggalian untukmencari mata air Zamzam tetapi tidak pernah berhasil. Bahkan saat itu Mudzaz telah memeberikan sesaji berwujud pedang dan pelana dari emas supaya mata air itu ditemukan, tetapi tetap saja gagal.

Bernadzar

Pada suatu ketika Abdul Muthalib bernadzar,"Jika aku memiliki 10 anak lelaki, lalu sampai dewasa aku tidak meilik anak lagi seperti saat menggali mata air zam-zam, maka aku akan menyembelih 1 diantar 10 untuk kurban di ka'bah untuk Tuhan."

Takdir akhirnya terjadi demikian. Abdul Muthalib mempuyai 10 anak laki-laki, dan stelah dewasa ia tidak mendapatkan anak. Pada akhirnya Abdul Muthalib brbicara pada anak-anaknya tentang perihal nadzarnya itu, termasuk kepada Abdullah anak bungsu yang ia cintai.

"Tetapi, aku tidak bisa menentukan siapa yang harus aku sembelih diantara kalian. maka dari itu, aku akan memanggil juru qidh (semacam hakim) untuk membantu aku bisa menentukannya."

Kemudian juru qidh ( anak panah menyuruh semua anak Abdul Muthalib untuk menulis namanya, kemudian mengocoknya di depan patung Hubal, dewa tertinggi di ka'bah. Nama yang muncul adalah Abdullah.

Melihat perbuatan Abdul Muthalib itu, penduduk Quraisy datang dan mencegahnya melakukan nadzar itu.

Menemukan Zamzam

Ka'bah ( kisah Nabi Muhammad saw )
Ka'bah  ( kisah Nabi Muhammad saw )
Malam harinya saat Abdul Muthalib tertidur, ia bermimpi dengan mendengar suara yang terus berulang,"Temukan mata air zam-zam itu, Abdul Muthalib!Temukanlah!Temukan Zam-zam itu!"

Keesokan hari Abdul Muthalib dengan penuh semangat mengajak Haritz unruk berangkat mencari mata air lagi. Hal itu semakin menambah keheranan penduduk quraisy,bahkan menganggap Abdul Muthalib sudah kehilangan akal.

Akhirnya, pada saat mereka sedang menggali di antara patung Isaf dan Na'ila, air memancar keluar."

"Haritz! Lihat! air Lihat Harits! ada air keluar!" teriak Abdul Muthalib dengan rasa terkejut.

Saat mereka sudah dalam menggali, kelihatanlah pedang-pedang serta pelana emas yang dahulu diletkkan oleh  Mudzaz bin Amr . Mendengar penemuan itu, penduduk Quraisy berbondong-bondong mendatangi.

Mereka meminta Abdul Muthalib untuk membagi air dan emas yang ditemukan itu. Tetapi Abdul Muthalib menolak dan mengusulkan untuk mengundi dengan qidh atau anak panah, dimana dua panah untuk ka'bah, dua untuk Abdul Muthalib dan dua untuk penduduk quraisy.

Kalau anak panah untukmu keluar, enkau akan mendapat bagian. tetapi kalau tidak, maka tidak mendapat bagian apa-apa."

Usul disetujui. Juru qidh mengundi di tengah-tengah berhala di depan Ka'bah. Anak panah atas nama Quraisy tidak ada yang muncul. NAma yang keluar adalah  Abdul Muthalib dan Ka'bah.Akhirnya Abdul Muthalib bisa melanjutkan tuganya untuk mengatur dan mengurus air zam-zam.

Pedang dan Pelana Emas

Abdul Muthalib memasang pedang pedang itu di pintu Ka'bah, sementara pelana emas disimpan di dalam rumah suci itu untuk perhiasan.

Kisah Nabi Muhammad SAW  Bagian 1 

TEBUSAN SERATUS UNTA UNTUK ABDULLAH

Abdul Muthalib menuntun Abdullah ke tempat dekat sumur Zam-Zam, antara patung Isaf dan Na'ila. Sebuah tempat dimana penduduk Mekah mengadakan acara pengorbanan untuk berhala atau dewa-dewa mereka. Akan tetapi masyarakat tidak setuju dan menghalangi niat Abdul Muthalib itu. 

Abdul Muthalib yang sedianya berkeras hati akhirnya luluh hatinya untuk mendengarkan penolakan masyarakat.

“Baik, namun apa yang harus aku perbuat supaya berhala tidak marah kepadaku?" kata Abdul Muthalib

Setelah berdsikusi dengan masyarakat akhirnya disepakati untuk bertanya dan menemui dukun di kota Yatsrib.

“Berapa jumlah tebusan kalian untuk anak itu?" tanya seorang dukun wanita.

"10 ekor unta."

“Kembali kalian  ke Mekah. Sediakan sepuluh ekor unta untuk tebusan. Lalu undilah antara unta dan anak itu. Apabila keluar nama anak itu, tambahlah jumlah tebusan untanya, lakukan pengundian lagi hingga nama unta yang muncul."

Mereka akhirnya pulang dan mengadakan proses pengundian, menggunakan anak panah. Ternyata setiap dilakukan pengundian selalu yang keluar adalah nama Abdullah. Akhirnya baru saat jumlah unta mencapai 100 ekor keluar nama unta.Tetapi Abdul Muthalib kurang mantab hati dan meminta sampai tiga kali keluar unta. Akhirnya setelah tiga kali di undi tetap yang keluar adalah unta. Seratus ekor unta pun disembelih begiru saja, dengan anggapan itu dipersembahkan untuk dewa.

Keturunan Dua Orang yang Disembelih

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda;

“Aku adalah anak dari dua orang yang disembelih."

Maksud perkataan Rosulullah tentu adalah Nabi Ismail anak Ibrahim, dan Abdullah ayah Abdul Muthalib.

Abrahah Penguasa Yaman

Pada saat Abdul Muthalib menjadi pemimpin di Mekah, ada sebuah kajadian dahsyat yang kelak di rekam dalam kisah dalam Al quran.

Peristiwa berawal dari sebuah negeri Yaman, dimana diperintah oleh seorang penguasa Abrahah al Asyram. 

Abrahah Al Asyram sendiri bukan asli Yaman. Abrahah datang dari negeri Habasyah sebuah negeri di Afrika yang menduduki Yaman. Waktu itu tujuhpuluh ribu  pasukan Habasyah pimpinan Aryath berhasil menduduki Yaman, tetapi akhirnya Aryath  dibunuh oleh Abrahah. Mulai saat itu Abrahah menjadi penguasa Yaman

Penduduk aseli Yaman sendiri adalah suku Saba', suatu suku yang sudah masyur karena kepiawaian dan kemapuannya terutama dalam hal bangunan. Diantara bangunan yang sangat terkenal waktu itu  yaitu Bendungan Raksasa Ma'rib.

Abrahah heran mengapa setiap tahun semua bangsa Arab mendatangi Mekah. Setelah mendapatkan informasi bahwa itu semua karena di Mekah ada ebuah bangunan yang bernama Ka"bah yang di sucikan. Kemudian timbul ide untuk membuat Gereja sebagai tandingan Ka'bah agar bangsa arab berpaling ke Yaman. Abraham memerintahkan untuk membangun sebuah gereja yang megah agar bangsa arab berpaling dan berkunjung ke Yaman. 

Namun setelah bangunan gereja megah itu berdiri, yang diberi nama Al Qullayus, harapan Abraham bertepuk sebelah tangan, karena bangsa Arab tidak mau berpaling dari Ka'bah di Mekah. Mereka menganggap tidak sah apabila tidak berziarah ke Ka'bah.

Disinilah timbul niat untuk menyerbu dan menghancurkan Ka'bah di Mekah. Abraham terkenal penguasa yang ditakuti karena memilki pasukan gajah.

Ketika bangsa arab mendengar itu, mereka marah dan mengerahkan penduduk untuk melawan Abraham. Seorang bangswan Arab waktu itu Abu Nafar memimpinnya tetapi akhirnya bisa dikalahkan dan berhasil ditawan Abrahah. Begitupun perlawanan Nufail bin Habib Al Khath'ami yang memimpin bersama kabilah Syahran dan Nahis, juga bisa dikalahkan oleh Abrahah dan pasukannya.

Bahkan kemarahan Abrahan semakin memuncak tatkala ada bangsa arab dari suku Kinani, berani memasuki Al Qullayus dan membuat kerusakan.

Sikap Penduduk Mekah

Penduduk Mekah mulai panik dengan sepak terjang Abraham dan pasukan gajahnya. Mereka meminta pendapat dan solusi dari Abdul Mutholib, dengan mengajak melawan Abrahah bersama-sama. Namun Abdul Muthalib menolak dengan mengatakan,'Tidak, Kita tidak mungkin mengalahkan mereka, kita akan selamat apabila tidak menghalangi Abrahah dan pasukannya, lebih baik kita mengungsi ke gunung sekitar Mekah"

Abdul Muthalib lalu mendatangi Abrahah bersamadengan  beberapa pemuka Mekah. (Kisah kejadian tersebut  pernah di ceritakan oleh guru kita "Gus Baha")

“Kembalikanlah unta-unta kami yang kalian rampas,"  pinta Abdul Muthalib kepada Abrahah.

“Kalau aku kembalikan, apakah hal yang kamu minta?" tanya Abrahah.

“Batalkan niatmu menghancurkan Ka'bah. Apabila kamu mau, kami akan memberi sepertiga harta dari daerah yang subur yaitu Tihama."

“Tidak!!" Abrahah kukuh pada niatnya.

“Baik, kalau begitu, kami akan menyerahkan keamanan Ka'bah kepada Tuhan yang memiliki Ka'bah!" pungkas Abdul Muthalib, kemudian pergi.

“Mengapa kau menyerahkan Ka’bah kepada Tuhan?” teriak Abrahah

“Karena Ka’bah kepunyaan Tuhan, sementara unta-unta itu punya kami” jawab Abdul Muthalib lalu pergi.

Kisah Nabi Muhammad SAW  Bagian 1 

Abrahah terus maju bersama pasukan gajahnya memasuki kota Mekah untuk menghancurkan Ka'bah. Allah telah melindungi rumah suci-Nya. Ketika Abrahah bergerak  hendak mendekat, gajah Abrahah tak mau jalan. Bahkan sekeras apa pun Abrahah memukulinya, gajah tenang tak bergeming, bahkan akhirnya kembali berjalan  menuju arah Yaman. Sampai tiba-tiba ada prajurit melaporkan,"Tuanku, sesuatu datang dari arah laut.." Terlihat dari arah laut kawanan burung terbang mengepakkan sayapnya menutupi sinar matahari laksana awan yang datang dengan cepat. Burung-burung itu menjatuhkan batu yang panas menyala ke semua pasukan gajah milik Abrahah. Semua  pasukan mati, bahkan termasuk Abrahah.

Kejadian ini masyur dan diabadikan Allah SWT pada Quran Surah Al-Fil ( QS: 105:1-5)

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?

Surah Al-Fil (105:1)

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ

Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka´bah) itu sia-sia?

Surah Al-Fil (105:2)

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ

dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong

Surah Al-Fil (105:3)

تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ

yang melempari mereka dengan batu (berasal) 

dari tanah yang terbakar

Surah Al-Fil (105:4)

Abdullah bin Abdul Muthalib akhirnya tidak jadi disembelih sebagai Kurban nadzar ayahnya Abdul Muthalib. Abdul Muthalib dewasa dengan paras yang gagah dan tampan tetapi tetap dengan kesopanan yang selalu terjaga. Sesuatu yang mahal pada masa itu.

Hari itu Abdul Muthalib mengajak Abdulah ke rumah Wahb bin Abdul Manaf untuk menjodohkan mereka. Namun ditengah jalan mereka bertemu dengan seorang gadis,"Mau kemana kau, Abdullah?"

"Aku hendak pergi bersama ayahku." jawab Muhammad.

"Aku memang melihat kamu dituntun oelh ayahmu, seperti unta yang akan disembelih. Demi engkau, jika kamu mau, kita akan menikah sekarang juga."

Abdul Muthalib menarik Muhammad dan memberi isyarat kepada Abdullah untuk tidak mempedulikan dan untuk segera melanjutkan perjalanan.

Pada akhirnya Abdulah dan Aminah putri Wahb bin Abdul Manaf sepakat dijodohkan.

Sepulang dari rumah Wahb bin Abdul Manaf Abdullah bertemu dengan wanita yang dijumpai sewaktu berangkat. Gadis itu berkata dengan ketus,"Cahaya yang berseri yang kemarin aku lihat di wajahmu sudah tidak ada. untuk itu aku tidak lagi menginginkanmu."

Cahaya Kenabian

Menurut ahli sejarah cahaya  berseri yang terlihat oleh gadis itu pada wajah Abdullah adalah cahay kenabian yang akan diturunkan kepada anaknya.

Abdullah dan Aminah menikah pada musim semi 570 Masehi, saat kota Tha'if bersemi, ditengah batang-batang gandum tumbuh meninggi, padang rumput menghijau, dengan semerbak bunga harum di kebun-kebun.

Pada hari yang sama Abdul Muthalib menikahkan sepupunya yaitu Hala, kelak dari pernikahan ini lahirlah Hamzah, paman Rasulullah yang seumuran dengan beliau.

Bagi masyarakat Mekah saat itu, musim semi adalah musim untuk memulai perdagangan untuk musim panas di Syiria. Abdullah yang bukan dari keluarga kaya raya memutuskan untuk melakukan perjalanan dagang. Ditengah kebahagiaan pengantin baru, Abdullah harus meninggalkan Aminah yang saat itu sedang mengandung.

Dikisahkan bahwa Aminah ketika mengandung Nabi Muhammad, Aminah melihat seberkas cahaya keluar dari perutnya dan melalui cahaya tersebut Aminah bisa melihat istana-istana Busra di negeri Syam.

Abdullah Meninggal

Namun, berita duka harus menghampiri Aminah saat mendengar berita bahwa Abdullah meninggal dunia saat perjalan pulang saat sampai di Yatsrib, jatuh sakit yang akhirya meninggal dunia.

Peninggalan Abdullah

Kesedihan Aminah bertambah karena sejatinya ia bersama Abdullah sedangan menunggu kelhiran buah cinta mereka. Namun takdir berbicara lain. Abdullah meninggalkan 5 ekor unta, sejumlah kambing, dan seorang budak perempuan dari Habasyah bernama Barokah yang kelak dikenal dengan Ummu Aiman, pengasuh Rosulullah. 

Kisah Nabi Muhammad SAW  Bagian 1 

Kelahiran Muhammad صلى الله عليه وسلم*

Senin pagi hari tapat 12 Robi'ul awal di tahun yang sama saat Abrahah menyerbu Mekah (tahun gajah), bulan Agustus pada tahun 570 Masehi sebagian berpendapat tanggal 21 April 571 Masehi, Aminah melahirkan anak laki-laki. 

“Kelahiranmu mengingatkanku pada ayahmu. Sungguh, di dalam hatiku engkau hadir sebagai pengganti Abdullah." Gumam Abdul Muthalib sewaktu pertama melihat cucunya.

Abdul Muthalib kemudian menggendong cucunya untuk berthawaf, berkeliling Ka'bah. Saat ini bukan kepada berhala, melainkan  kepada Allah. Abdul Muthalib lalu berdoa dan bersyukur

“Aku beri nama kamu, Muhammad," kata Abdul Muthalib.

Muhammad mempunyai makna terpuji, nama yang tidak lazim  di kalangan penduduk Arab waktu itu, tetapi cukup terkenal.

“Aku ingin dia menjadi seseorang yang terpuji, untuk Tuhan di langit juga untuk makhluk-Nya di bumi," jawab Abdul Muthalib ketika menjawab pertanyaan mengapa tidak memberi nama nenek moyang mereka.

Ada tradisi baik dikalangan bangsa Arab saat itu yaitu mencari perempuan-perempuan desa untuk menyusui anak-anaknya, terutama dari ibu-ibu kalangan berada. Anak-anak mereka titipkan untuk disusui, agar terhindar dari penyakit yang ada di perkotaan sekaligus bisa belajar bahasa Arab yang masih murni di desa.

Diantara peremuan yang mencari anak-anak yang bisa mereka susui ada seorang wanita bernama Halimah binti Abu Dzu'aib. Halimah dan suami berharap mendapatkan orang kaya yang menitipkan ananknya unruk disusui karena saat iru menghadapi musim yang kurang baik. Panen yang sedikit, unta-unta mereka yang tidak lagi mengeluarkan susu untuk anak-anak mereka yang masih kecil karena lapar dimalam hari.

Namun, harapan Halimah nampaknya tidak menjadi kenyataan karena hampir semua bayi dari kalangan orang kaya atau bangsawan sudah diambil oleh wanita yang lain.

"Dia adalah Muhammad, anak yatim yang hanya tinggal bersamamu dan kakeknya," jawab Aminah dengan wajah sendu, saat ditanya pasangan suami istri itu.

Namun mereka tidak mau menyusui Muhammad karena tidak ada yang memberi upah. Sebelumya Muhammad sempat disusui oleh budak perempuan Abu Lahab yang bernama Tsuwaibah. Itupun hanya untuk beberapa hari. Namun kelak Nabi Muhammad begitu baik memperlakukannya.

Halimah dan Suaminya Harits mendapati semua wanita mendapatkan bayi untuk disusui. Hal ini membuat Halimah memutuskan untuk kembali kepada Aminah dn berkeinginan membawanya ke desa untuk disususi.

Akhirnya Aminah melepas Muhammad untuk beberapa lama didesa untuk disusui Halimah.

Pertama sejak Aminah menyusui, ia mendapati keajaiban kecil yang mereka temui. Anaknya yang sebelumnya sering menangis dimalam hari, saat itu tertidur lelap. Unta-unta meraka yang selama ini sudah tidak megeluarkan setetespun susu, kali ini ke,bali bisa mengeluarkan air susu.

Tanah sepetak yang mereka punyai juga menjadi subur dan menghasilkan gandum yang cukup. Bahkan suatu waktu ketika dalam perjalanan, mereka heran karena keledai yang mereka tunggangi yang sebelumnya berjalan lambat, kali ini bisa berjalan cepat seakan tidak keberatan sedikitpun.

“Demi Allah,  Halimah, kita sudah mengambil anak yang dipenuhi  ddngan keberkahan." bisik Harits kepada Halimah. 

Namun waktu berjalan dan tidak terasa waktu pengembalian Muhammad kepada orangtuanya di Mekah sudah tiba. Dan itu membuat mereka sedih.

Muhammad Kembali Ke Dusun

Halimah bersama Harits suaminya pergi ke Mekah untuk mengembalikan Muhammad pada ibunya, Aminah. 

Aminah sangat senang dan berterima kasih kepada Halimah telah merawat Muhammad dengan sangat baik, hingga menjadi anak yang sehat.

Dalam hati Halimah sedih juga gelisah karena sebenarnya mereka tidak ingin berpisah dengan Muhammad, dan ingin merawawatnya lagi. Tapi tentu saja mereka tidak enak hati karena bagaimanapun pasti Aminah sangat merindukan dan ingin bersama Muhammad lebih lama.

“Sejujurnya kami berharap sekiranya saja kamu membiarkan Muhammad untuk tetap bersama kami sampai menjadi besar nanti, setidaknya kami tidak kawatir Muhammad terserang penyakit menular yang aku dengar sedang menyerang Mekah." kata Halimah dengan penuh harap .

Aminah bimbang, disatu sisi alasan permintaan mereka ada benarnya tetapi disatu sisi Aminah merasa berat harus berpisah lagi dengan Muhammad. Suatu ketika Abdul Muthalib melihat Muhammad dan begitu gembira melihat pertumbuhannya yang bak. Bahkan Abdul Muthalib tidak keberatan kalau Muhammad dirawat kembali ke dusun Bani Sa'ad sampai usia 5 tahun.

Akhirnya Aminah dengan berat hati mengijinkan Muhammad dibawa kembali oleh Halimah untuk dirawat.

Namun sekembalinya di dusun, ternyata Muhammad mengalami kejadian yang menghebohkan sekaligus membuat takut Halimah.

Waktu itu, Muhammad ikut serta bersama saudara-saudarnya dari Halimah untuk menggembalakan kambing. tetapi tiba-tiba seorang putra Halimah berlari sambil menangis mendatangi Halimah.

"Ada apa Nak?" Halimah betanya dengan panik.

"Saudaraku Muhammad yang dari quraisy itu... ia diambil laki-laki berpakaian serba putih, kemudian dibaringkan dan dibelah perutanya dengan dibolak-balikkan..."

Halimah dan suami semakin kawatir. Mereka berlari menuju tempat Muhammad.

"Apa yang sebenarnya terjadi Nak.." Halimah begitu kawatir kepada Muhammad

"Aku didatangi laki-laki yang berpakain serba putih. Aku dibaringkan kemudian perutku dibedah, seperti mencari sesuatu dalam perutku. tapi akutidak tahu apa yang dicari." cerita Muhammad dengan wajah yang pucat.

Tanpa banyak tanya lagi Halimah dan Harits membawa Muhammad pulang, dengan rasa kawatir yang mendalam. Halimah takut kalau yang mendatangi Muhammad adalah JIn yang ingin mengganggu.

“Sebaiknya kita membawa Muhammad kembali ke Mekah," kata Harits kepada Halimah.

Percakapan dengan Aminah

Berkat kejadian itu akhirnya Halimah kembali ke Mekah untuk menyerahkan Muhammad kepada Aminah.

”Mengapa kau mengantarkan Muhammad kembali padaku, hai ibu susuan? Bukankah sebelumnya kau yang meminta Muhammad tinggal bersamamu?"

“Iya, benar," jawab Halimah kemudian menceritakan kejadian yang menimpa Muhammad di dusun.

"Setan tidak akan bisa masuk kedalam jiwa Muhammad. Sesungguhnya anakku kelak akan menjadi orang besar. Waktu aku mengandung Muhammad, aku melihat cahaya keluar dari perutku, dan dengan cahaya itu aku bisa melihat istana-istana di Busra Negeri Syam dengan terang benderang."

"Demi Allah, aku belum pernah melihat orang mengandung dimana merasakan begitu ringan dan mudah seperti yang aku rasakan. An sewaktu lahir pun, ia meletakkan tangannya ditanah dengan kepala menghadap langit."

"Biarlah Muhammad bersamamu" kata Aminah sambil menenangkan Halimah.

Pada akhirnya Muhammad kembali dibawa ke dusun Halimah kembali.

Orang-Orang Habasyah

Saat Muhammad usia 5 tahunan, saat sedang menggembala kambing bersama saudaranya, diam-diam-diam ada bebrapa orang Nasrani dan Yahudi dari Habsyah yang memperhatikan dan mengamati gerak-gerik Muhammad.

"Paman menginginkan apa?" tanya Muhammad kepada orang-orang itu.

"Coba kamu balik badan, Nak, Aku hanya ingin melihat punggungmu.." kata laki-laki itu.

Orang-orang Habasyah itu nampak terkejut, dan langsung kembali ke teman mereka berkumpul.

Halimah yang hendak menjemput anak-anak mereka, melihat kejadian itu langsung curiga dan mencoba menguping pembicaraan orang-orang Habasyah itu.

“Kita harus mengambil anak itu lalu membawa kepada raja. Kita suda tahu mengetahui tentang anak itu! Tanda di punggungnya itu dalah bukti bahwa anak itu diramalkan kelak akan menjadi orang besar."

Halimah yang tadinya diam-diam mendekat, kini dengan hati-hati menjauhi tempat itu untuk membawa Muhammad pergi waktu itu juga.

“Aku harus melarikan Muhammad dari mereka sekarang juga!"

Pada akhirnya Halimah harus mengantarkan Muhammad ke Mekah. Mereka sekarang benar-benar merasa kawatir kalau sesuatu yang buruk menimpa Muhammad.

Halimah dan Harits mengantarkan Muhammad kembali ke Mekah. 

Sesampainya di Mekah, di tengah keramian Muhammad terpisah dari Halimah. Halimah takut kalau orang Habasyah itu mengikuti dan mengambil Muhammad. Akhirnya Halimah dengan menangis menemui Abdul Muthalib untuk melaporkan hal itu.

Abdul Muthalib memerintahkan untuk mencari keberadaan Muhammad.

Akhirnya Waraqah bin Naufal bersama temannya membawa Muhammad kepada Abdul Muthalib. Waraqah bin Naufal adalah paman Khodijah yang kelak menjadi istri Nabi Muhammad.

Abdul Muthalib begitu bergembira dan bereri-seri, segera setelah itu menggendong Muhammad untuk berthawaf mengelilingi Ka'bah. Lalu mengajaknya untuk menemui Ibunya, Aminah.

Di Bawah Asuhan Kakek 

Semenjak itulah, Muhammad diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Abdul Muthalib yang merupakan pemimpin Quraisy begitu menyayangi Muhammad. 

Suatu ketika Aminah ingin mengajak Muhammad ke Yatsrib untuk menengok makam ayah Muhammad, Abdullah, sekaligus memperkenalkan kepada kerabatnya di Yatsrib.

Aminah Wafat

Dalam perjalanan itu , Aminah ditemani Ummu Aiman, budak perempuan sewaktu Abdullah masih hidup. Di Yatsrib Aminah dan Muhammad disambut baik saudara Aminah, lalu ditunjukkan rumah tempat Abdullah tinggal serta menunjukkan tempat pemakaman Abdullah. 

Saat itulah Muhammad merasakan bahwa dia seorang yatim. Apalagi ibunya juga menceritakan tantang Abdullah, ayahnya sewaktu tinggal bersama.

Kelak, setelah hijrah, Rasulullah SAW bererita kepada para sahabat-sahabatnya perihal kisah perjalanan penuh cinta di wakru masa kecil, saat ke Yatsrib ( waktu itu sudah menjadi Madinah ) bersama ibundanya.  

Kisah tersebut membuat para sahabat menangis dan ikut larut  dalam kesedihan.

Setelah sebulan tinggal di Madinah, Aminah dan Muhammad memutuskan utnuk kembali ke Mekah. Namun diperjalannan pulang yang mengunakan 2 ekor unta itu, di tempat bernama Abwa, Aminah menderita sakit yang berujung meninggal dunia.

Pada umur 6  tahun, Muhammad sudah menjadi anak yatim piatu.😭

Abwa adalah dusun yang letaknya antara Madinah dan Juhfa, 37 km dari Madinah

Abdul Muthalib Wafat

Selanjutnya Muhammad dibawa pulang ke Mekah oleh Ummu Aiman, yang juga mengalami duka yang mendalam. Karena dulu pernah mendengar berita meninggalnya Abdullah saat Aminah mengandung, dan kini harus menyaksikan kesdihan Muhammad ditinggal selamanya oleh ibundanya.

Sesampainya di Mekah, Muhammad disambut oleh Abdul Muthalib dengan rasa kasihan dan sedih yang luar biasa. Namun kesdihan Muhammad tidak berhenti sampai disitu, 2 tahun kemudian, Abdul Mutholib, Kakek yang begitu menyayanginya itupun meninggal dunia, di usia 80 tahun, atau saat usia Muhammad 8 tahun.

Bahkan kesedihan Muhammad yang menjadi yatim piatu itu oleh Allah di abadikan sekaligus untuk dijadikan pelajaran sebagaimana dikisahkan dalam Al Quran Surat Ad-Dhuha:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”

Surah Ad-Duha (93:6)

وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk”

Surah Ad-Duha (93:7)

Keluarga Umayyah

Sepeninggal Abdul Muthalib, keluarga Hasyim seperti pukulan kepada keluarga Hasyim dimana tidak ada dari anak-anak Abdul Muthalib yang memiliki kewibawaan dan memiliki pengaruh yang kuat di Mekah. Akhirnya Keluarga Umayyah mengambil alih kepemimpinan yang sejak lama mereka impikan, tanpa menghiraukan keluarga Hasyim.

Diasuh Abu Thalib

Sebelum meningal dunia, Abdul Muthalib sudah mulai menunjuk salah satu anaknya untuk mengasuh Muhammad. Abdul Muthalib tidak meminta Abbas yang kaya, tetapi agak kikir. Atau juga tidak meminta  Harist, putranya paling tua karena Harist merupakan orang yang tergolong tidak mampu.

Abdul Muthalib lbih memilih menunjuk Abu Thalib sebab meskipun  miskin, Abu Thalib mempunyai perasaan halus dan termasuk orang yang paling terhormat di kalangan Quraisy. Abu Tahlib pun begitu menyayangi Muhammad. Bahkan selalu mendahulukan Muhammad dibandingkan anak-anaknya sendiri. Muhammad sering ikut membantu menggembala kambing atau menvcari rumput.

Mengikuti Abu Thalib

Diam-diam Muhammad kecil mulai merasakan tidak nyaman dengan kehidupan di Mekah. Tiap hari melihat seusianya yang fakir miskin telanjang tanpa malu. Banyak orang kaya yang lebih suka berpesta dan mabuk-mabukan, dengan dijaga para budaknya tanpa memperdulikan sekitarnya. Sementara didalam gubug-gubug banyak orang yang hidup menderita.pengap dengan kehidupan di Mekah. 

Suatu waktu, saat Muhammad berusia 12 tahun, Abu Thalib berniat berniaga ke Negeri Syam.

Dengan pertimbangan bahwa Muhammad tidak ada temannya saat di Mekah, Abu Thalib mengajak Muhammad untuk ikut dalam perjalanan itu.

Lihb Si Peramal

Lihb adalah seorang peramal, dimana orang-orang Quraisy biasa mendatanginya untuk menyakan ramalan tentang anak-anaknya.

Pada suatu hari Lihb melihat Muhammad dan memanggilnya,"Kemari hai kau Anak muda." tetapi Abu Thalib segera membawanya pergi dari Lihb.

“Celaka engkau, bawalah kemari anak muda tadi! Demi Allah, anak itu akan menjadi orang besar nanti!"

Jamuan Buhaira

Kafilah Quraisy akhirnya berangkat berniaga ke Syam. Saat tiba di Busra, kafilah melwati rumah ibadah pendeta Nasrani yang bernama Buhaira. Buhaira adalah pendeta yang pandai. Biasanya Buhaira tidak memperdulikan para kafilah yang melwati rumahnya. Namun kali ini ia meminta singgah dan menyuruh pembantunya untuk membuatkan masakan yang banyak.

Buhaira melakukan itu karena dari kejauhan, dari balik jendela rumahnya ia melihat ada awan kecil yang mengikuti kafilah itu. Ada awan yang selalu bergerak untuk melindungi seseorang didalam kafilah itu dari terik matahari.

Buhaira segera mendatangi kafilah yang sedang beristirahat dan berkata,"

“Hai orang-orang kafilah Quraisy, aku sudah membuatkan  makanan untukmu. Aku ingin kalian, anak kecil, dewasa, budak, atau orang merdeka, untuk singgah di rumahku"

Seorang Quraisy lalunmenyahut bertanya;

“Demi Allah, wahai Buhaira, sungguh istimewa apa yang kau  lakukan hari ini. Padahal, sebelumnya tidak demikina saat kami melewati tempat ini? Apa yang terjadi?

“Engkau benar," jawab Buhaira,

“Benar, dulu aku memang seperti yang kau katakan. Tapi kali ini kalian semua adalah tamuku aku igin menjamun kalian semua."

Akhirnya rombongan Kafilah Quraisy pun memenuhi undangan Pendeta Buhaira.Tetapi Muhammad di tugaskan untuk menjaga perbekalan dan tidak ikut karena masih kecil. 

Negeri Syam

Abu Thalib bersama Muhammad berangakat ke Syam pada tahun 582 Masehi.

Syam adalah negeri yang wilayahnya sekarang meliputi negara Syria, Yordania, dan Palestina. 

Syam waktu itu berada di bawah pemerintahan Romawi Timur

Post a Comment for "Kisah Nabi Muhammad SAW Bagian 1 "